SAMPEYAN IKUT SUNNAH ATAU MAHZAB

Diposting oleh admin on Selasa, 05 Juni 2012


Di antara ciri khas Ahlussunnah Wal-Jama’ah adalah mengikuti pola bermadzhab dalam amaliah sehari-hari terhadap salah satu madzhab fiqih yang empat, yaitu madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Bahkan menurut al-Imam Syah Waliyullah al-Dahlawi (1110-1176 H/1699-1762 M), pola bermadzhab terhadap suatu madzhab tertentu secara penuh telah dilakukan oleh mayoritas kaum Muslimin sejak generasi salaf yang saleh, yaitu sejak abad ketiga Hijriah. Karenanya, sulit kita temukan nama seorang ulama besar yang hidup sejak abad ketiga hingga saat ini yang tidak mengikuti salah satu madzhab fiqih yang ada.

Belakangan setelah lahirnya gerakan Wahhabi di Najd Saudi Arabia, lahir pula gerakan anti madzhab yang mengajak kaum Muslimin agar menanggalkan baju bermadzhab dan kembali kepada “ajaran al-Qur’an dan Sunnah”. Karena menurut mereka, para imam madzhab sendiri seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam al-Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal, lebih mendahulukan hadits shahih daripada hasil ijtihad. Bukankah semua imam madzhab pernah menyatakan, “idza shahha al-hadits fahuwa madzhabi (apabila suatu hadits itu shahih, maka itulah madzhabku)”.

More aboutSAMPEYAN IKUT SUNNAH ATAU MAHZAB

Irshad Manji; Reformis kah?

Diposting oleh admin on Selasa, 29 Mei 2012


Seorang Irshad Manji berkebangsaan Kanada. " Dan, di Belanda memang, memiliki banyak kesamaan dengan anggota parlemen Belanda yang berasal dari asal Somalia, bekerja pada sebuah lobi konservatif di AS. Kedua, ia adalah perempuan muda dengan latar belakang Muslim dan tidak sependapat atas ketidakadilan bahwa dalam pandangan Islam, perempuan adalah budak. Selanjutnya bahwa perempuan dianggap sebagai warga kelas dua yang hanya memiliki setengah kesadaran intelektual sebagai manusia. Pandangan tersebut mendapatkan respon serius melalui kritik agresif Islam, 

More aboutIrshad Manji; Reformis kah?

Refleksi Ke-Indonesiaan

Diposting oleh admin on Sabtu, 26 Mei 2012


    Oleh: Muhammad Kholidul Adib

Cita-cita agung para pendiri republik ini (the founding fathers) –seperti Sukarno dan Tan Malaka– adalah menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat dalam makna dan wujud yang sesungguhnya. Cita-cita ini mengandung pesan dan pengertian bahwa kemerdekaan dan kedaulatan bangsa ini tidak akan secara otomatis terwujud dengan dibacakannya teks proklamasi pada 17 Agustus 1945.  Kemerdekaan dan kedaulatan bangsa yang sejati adalah bebas dari –pengaruh, pendiktean dan hegemoni – imperialisme (kapitalisme global)- yang sesungguhnya sudah menguasai Dunia Ketiga jauh sebelum Indonesia memproklamasikan “kemerdekaan”-nya. Pertanyaannya sekarang: sudahkan bangsa ini merdeka seperti yang diimpikan oleh para pendiri republik? Ironis memang jika pertanyaan ini harus dijawab secara jujur
More aboutRefleksi Ke-Indonesiaan