Susunan PKC PMII Jateng 06-08

Diposting oleh admin on Senin, 07 Juli 2008

PENGURUS KOORDINTOR CABANG PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA JAWA TENGAH PERIODE 2006-2008

Majelis Pembina Daerah ( MABINDA ) 
Ketua : KH. Mahfud Ridwan, Lc 
Sekretaris : Drs. Muhsin Jamil, MA 
Anggota : 
Drs. H. Noer Ahmad, MA 
H. Abdul Kadir Karding, S.Pi 
Drs. Ali Mansyur, HD 
Dra. Zuhar Mahsun, 
M.Si Drs. H. Hisyam Alie 
Drs. H. Supito 
Drs. H. Masyhudi 
Drs. Ateng Chozani Miftah, SE, MM 
H. Suwanto, SE, MM 
Ir. Budi Darmawan 
Drs.H. Aminudin Sanwar, MM 
M. Hendri Wicaksono, S.Pd 
Drs. H. Agus Fathuddin Yusuf 
 
BADAN PENGURUS HARIAN (BPH)
Ketua Umum : Muhammad Mahbub Zaki 
Sekretaris Umum : Kusdiyanto 
Wakil Sekretaris : Handoko Wahyu 
Bendahara Umum : M. Heru Kuncoro 
Wakil Bendahara : Bibi Nugroho 
Ketua I : Musabihan 
Ketua II : Sigit Purnomo 
Ketua III : Syaiful Hadi 
Ketua IV : Duwi Rusmiyati 
Sekretaris I : Irfan Rosyadi 
Sekretaris II : Eko wahyudi 
Sekretaris III : A. Musyafa’ 
Sekretaris IV : Amin Hidayat 
 
B I R O – B I R O 
KOORDINASI BIDANG INTERNAL 
1. BIRO PENGKADERAN DAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA ANGGOTA (BP-SDA) 
1. M. Mathori 2. Ardini Febilia 3. Jamal Lutfi 4. Arifin 2. 
BIRO PENEGEMBANGAN POTENSI CABANG (BPPC) 
1. Wik Hartono 2. Rakhmad 3. Shofwan Setyawan 4. Ilham Budianto 
3. BIRO PENGEMBANGAN KAJIAN INTELEKTUAL (BKPI ) 
1. Sumardi 2. Yusuf Prasetyawan 3. Kholidul Adib 4. Murofi 
 
KOORDINASI BIDANG EKSTERNAL 
1. BIRO PERS DAN INFORMASI (BPI) 
1. Nur Cholis Madjid Al-Gadingi 2. Wildan 3. Sulatri 4. Nurul Huda 2. 
BIRO ADVOKASI KEBIJAKAN PUBLIK (BAKP ) 
1. M. Abdul Basyir 2. Mahbub Hamdani 3. Umi’ Marwah 4. Beta Nurkholis Ismail 
3. BIRO HUBUNGAN ANTAR LEMBAGA (BHAL) 
1. Ma’rifun Arif Lasalle 2. Wahyu Budiman 3. Ahmad Sochib 4. Fery Nuryanto 
KOORDINASI BIDANG KEAGAMAAN 
1. BIRO KAJIAN DAN PENGEMBANGAN KAJIAN ISLAM ( BKPK) 
1. Muhammad Fahad 2. Kholis Januri 3. Irhamni 4. Marzuki 
KOORDINASI BIDANG ADAVOKASI DAN KAJIAN JENDER 
1. BIRO KAJIAN JENDER DAN PEMBERDAYAAN (BKJP) 
1. Santy 2. Suharbadi 3. Rahmalia 4. Ulfa 
2. BIRO JARINGAN ADVOKASI JENDER (BJAJ) 
1. Sofiah 2. Sumiati 3. Al-Jabarudin Ahmad 4. Khotimah Az-Zahro
More aboutSusunan PKC PMII Jateng 06-08

AD/ART PMII

Diposting oleh admin on Minggu, 06 Juli 2008

ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA (AD/ART) PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA ANGGARAN DASAR

MUKADDIMAH : Insyaf dan sadar bahwa Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dan permusyawaratan/perwakilan dan Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia merupakan ideologi negara dan falsafah bangsa Indonesia. Sadar dan yakin bahwa Islam merupakan panduan bagi umat manusia yang kehadirannya memberikan rahmat sekalian alam. Suatu keharusan bagi umatnya mengejewantahkan nilai Islam dalam pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara serta dalam kehidupan masyarakat dunia. Bahwa keutuhan komitmen kesialaman dan keindonesiaan merupakan perwujudan kesadaran beragama dan berbangsa bagi setiap insane muslim Indonesia dan atas dasar itulah menjadi keharusan untuk mempertahankan bangsa dan negara dengan segala tekad dan kemampuan, baik secara perseorangan maupun bersama-sama. Mahasiswa Islam Indonesia sebagai salah satu eksponen pembaharu bangsa dan pengemban misi intelektual berkewajiban dan bertanggung jawab mengemban komitmen keislaman dan keindonesiaan demi meningkatkan harkat dan martabat umat manusia dan membebaskan bangsa Indonesia dari kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan baik spiritual maupun material dalam segala bentuk. Maka atas berkat rahmat Allah SWT, dibentuklah Pergerakan Mahasiswa Islam Indoensia yang berhaluan Ahkussunnah wal-jamaah dengan Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) sebagai berikut: BAB I NAMA, WAKTU DAN KEDUDUKAN Pasal 1 Organisasi ini bernama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang disingkat PMII PMII didirikan di Surabaya pada tanggal 21 Syawal 1379 Hijriyah, bertepatan dengan tanggal 17 April 1960 dengan jangka watktu yang tidak terbatas. PMII berpusat di Ibukota Republik Indonesia. BAB II ASAS Pasal 2 PMII berasaskan Pancasila BAB III SIFAT Pasal 3 PMII bersifat keagamaan, kemahasiswaan, kebangsaan, kemasyarakatan independen dan profesional. BAB IV TUJUAN DAN USAHA Pasal 4 TUJUAN Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Pasal 5 USAHA Menghimpun dan membina mahasiswa Islam sesuai dengan sifat dan tujuan PMII serta peraturan perundang-undangan dan paradigma PMII yang berlaku. Melaksanakan kegiatan-kegiatan dalam berbagai bidang sesuai dengan asas dan tujuan PMII serta upaya mewujudkan pribadi insan ulul albab. BAB V ANGGOTA DAN KADER Pasal 6 Anggota PMII Kader PMII BAB VI STRUKTUR ORGANISASI Pasal 7 Struktur organisasi PMII terdiri dari : Pengurus Besar (PB) Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pengurus Cabang (PC) Pengurus Komisariat (PK) Pengurus Rayon (PR) BAB VII PERMUSYAWARATAN Pasal 8 Permusyawaratan dalam organisasi terdiri dari: Kongres Musyawarah Pimpinan Nasional (Muspimnas) Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Konferensi Koordinator Cabang (Konkorcab) Musyawarah Pimpinan Daerah(Muspimda) Musyawarah Kerja Kordinator Cabang (Muker Korcab) Konferensi Cabang (Konfercab) Musyawarah Pimpinan Cabang (Muspimcab) Rapat Kerja Cabang (Rakercab) Rapat Tahunan Komisariat (RTK) Rapat Tahunan Anggota Rayon (RTAR) Kongres Luar Biasa (KLB) Konferensi Koorcab Luar Biasa (Konkorcab LB) Konferensi Cabang Luar Biasa (Konfercab LB) Rapat Tahunan Komisariat Luar Biasa (RTK LB) Rapat Tahunan Anggota Rayon Luar Biasa (RTARLB) BAB VIII WADAH PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN Pasal 9 Wadah ini adalah badan otonom yang secara khusus menangani pengembangan dan pemberdayaan kader PMII dan isu perempuan Selanjutnya pengertian otonom dijelaskan dalam bab penjelasan. BAB IX PERUBAHAN DAN PERALIHAN Pasal 10 Anggaran Dasar ini dapat dirubah oleh kongres dengan dukungan sekurang-kurangnya 2/3 suara yang hadir Pasal 11 Apabila PMII terpaksa harus dibubarkan dengan keputusan kongres atau referendum yang khususnya diadakan untuk itu , maka hak milik dan kekayaan organisasi diserahkan kepada organisasi yang lain asas dan tujuannya tidak bertentangan hal-hal yang belum diatur dalam Anggaran Dasar ini akan diatur dalam Aggaran Rumah Tangga , serta peraturan peraturan organisasi lainnya. Anggaran Dasar ini ditetapkan oleh kongres dan berlaku sejak waktu dan tanggalnya ditetapkan Ditetapkan pada : Kongres XV PMII Bogor Jawa Barat Tahun 2005 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- PENJELASAN ANGGARAN DASAR UMUM Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga sebagai Hukum Dasar Organisasi Anggaran Dasar adalah hokum dasar yang tertulis, yaitu aturan dasar yang timbul dan terpelihara dalam praktek penyelenggaraan organisasi Pokok Pikiran dalam Pembukaan Organisasi sebagai bagian dari bangsa Indonesia mengakui adanya ideologi dan falsafah hidup bangsa yang terumuskan dalam pancasila Sebagai organisasi yang menganut nilai ke-Islaman, yang senantiasa menjadikan Islam sebagai panduan dan sekaligus menyebarkan dan mengejawantahkan kedalam pribadi, masyarakat, bangsa dan negara Bahwa nilai ke-Indonesiaan dan ke-Islaman merupakan paduan unsur yang tidak dapat dipisahkan dari Indonesia, maka kewajiban bagi setiap orang adalah mempertahankannya dengan segala tekad dan kemampuan, baik secara pribadi maupun bersama-sama Sebagai organisasi yang mengemban misi perubahan dan intelektual, Mahasiswa Islam wajib bertanggung jawab membebaskan bangsa Indonesia dari keterbelakangan dan keterpurukan kepada kemajuan, kemakmuran dan keadilan. Kewajiban dan tanggung jawab ke-Islaman, ke-Indonesiaan dan Intelektual, menginspirasikan terbentuknya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia sebagai Organisasi Mahasiswa Islam yang berhaluan Ahlussunah Wal Jamaah PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup Jelas Pasal 2 Cukup Jelas Pasal 3 Ke-Islaman adalah nilai-nilai Islam Ahlussunah Wal Jamaah Kemahasiswaan adalah sifat-sifat yang dimiliki mahasiswa, yaitu idealisme, perubahan, komitmen, keperdulian sosial dan kecintaan kepada hal-hal yang bersifat positif Kebangsaan adalah nilai-nilai yang bersumber dari kultur, filosofi, sosiologi dan yuridis bangsa Indonesia Kemasyarakatan adalah bersifat include dan menyatu dengan masyarakat dengan masyarakat. Bergerak dari dan untuk masyarakat Independen adalah berdiri secara mandiri, tidak bergantung kepada pihak lain, baik secara perorangan maupun kelompok Profesional adalah distrubusi tugas dan wewenang sesuai dengan bakat, minat, kemampuan dan keilmuan masing-masing Pasal 4 Cukup jelas Pasal 5 (2) Pribadi ulul albab adalah seseorang yang selalu haus akan ilmu, dengan senantiasa berdzikir kepada Allah, berkesadaran historis-primordial atas relasi Tuhan-manusia-alam, berjiwa optimis transendental sebagai kemampuan untuk mengatasi masalah kehidupan, berpikir dialektis, bersikap kritis dan bertindak transformatif Pasal 6 Cukup jelas Pasal 7 Cukup jelas Pasal 8 Cukup jelas Pasal 9 Yang dimaksud otonom adalah menangani persoalan khusus dalam hal ini persoalan perempuan di PMII dan isu perempuan secara umum dalam rangka mempercepat tercapainya keadilan gender di PMII dan masyarakat luas, bersifat hierarkis dan bertanggung jawab kepada pleno PMII. Pasal 10 Cukup Jelas pasal 11 Cukup Jelas ANGGARAN RUMAH TANGGA PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA BAB I ATRIBUT Pasal 1 Lambang PMII sebagaimana yang terdapat dalam Anggaran Rumah Tangga ini Lambang seperti tersebut pada ayat (1) di atas dipergunakan pada bendera, jaket, badge, vandel, logo PMII dan benda atau tempat-tempat dengan tujuan menunjukan identitas PMII Bendera PMII adalah seperti yang terdapat dalam lampiran Mars PMII adalah seperti yang terdapat dalam lampiran Anggaran Rumah Tangga PMII BAB II USAHA Pasal 2 Melakukan dan meningkatkan amar ma’ruf nahi munkar Mempertinggi mutu ilmu pengetahuan Islam dan IPTEK Mrningkatkan kualitas kehidupan umat manusia dan umat Islam melalui kontekstualisasi pemikiran, pemahaman dan pengalaman ajaran agama Islam sesuai dengan perekembangan budaya masyarakat. Meningkatkan usaha-usaha dan kerjasama untuk kesejahteraan umat manusia, umat Islam dan mahasiswa serta usaha sosial kemasyarakatan Mempererat hubungan dengan ulama dan umara demi terciptanya ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathoniyah dan ukhuwah insaniyah. Memupuk dan meningkatkan semangat nasionalisme melalui upaya pemahaman, dan pengamalan pancasila secara kreatif dan bertanggung jawab. BAB III KEANGGOTAAN BAGIAN I ANGGOTA Pasal 3 Anggota biasa adalah : Mahasiswa Islam yang tercatat sebagai mahasiswa pada suatu perguruan tinggi dan atau yang sederajat Mahasiswa Islam yang telah menyelesaikan program studi pada perguruan tinggi dan atau yang sederajat atau telah mencapai gelar kesarjanaan S1,S2,atau S3 tetapi belum melampaui jangka waktu 3 (tiga) tahun Anggota yang belum melampaui usia35 tahun Kader adalah : Telah dinyatakan berhasil menyelesaikan Pelatihan Kader Dasar (PKD) dan Follow Up nya Sebagai mana pada ayat (2) poin (a) baik yang menjadi pengurus Rayon dan seterusnya maupun yang telah menggeluti kajian-kajian, aktif melakukan advokasi di masyarakat maupun telah memasuki wilayah professional BAGIAN II PENERIMAAN ANGGOTA Pasal 4 Penerimaan anggota dilakukan dengan cara Calon anggota mengajukan permintaan secara tertulis atau mengisi formulir untuk menjadi calon anggota PMII kepada Pengurus Cabang Seseorang syah menjadi anggota PMII setelah mengikuti Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) dan mengucapkan bai’at persetujuan dalam suatu upacara pelantikan Dalam hal-hal yang sangat diperlukan, Pengurus cabang dapat mengambil kebijaksanaan lain yang jiwanya tidak menyimpang dari ayat (1) dan ayat (2) Tersebut diatas. Apabila syarat-syarat yang tersebut dalam ayat 1 dan 2 di atas dipenuhi kepada anggota tersebut diberikan tanda anggota oleh Pengurus Cabang. Pasal 5 Jenjang Pengkaderan dilakukan dengan cara: Calon kader mengajukan permintaan tertulis atau mengisi formulir PKD Seseorang telah syah menjadi kader apabila dinyatakan berhasil mengikuti PKD dan diikuti pernyataan bai’at persetujuan secara lisan dalam suatu upacara pelantikan kader yang dilakukan oleh Pengurus Cabang BAGIAN III MASA KEANGGOTAAN Pasal 6 Anggota berakhir masa keanggotaan: meninggal dunia Atas permintaan sendiri secara tertulis yang disampaikan kepada Pengurus Cabang Diberhentikan sebagai anggota, baik secara terhormat maupun secara tidak terhormat Telah habis masa keanggotaan sebagai anggota biasa sebagaimana diatur dalam pasal 3 ayat 1 ART ini Bentuk dan tata cara pemberhentian diatur dalam ketentuan tersendiri. Anggota yang telah habis masa keanggotaan nya pada saat masih menjabat sebagai pengurus dapat diperpanjang masa keanggotaannya hingga berakhirnya masa kepengurusan. Anggota yangtelah habis masa keanggotaaannya disebut ALUMNI PMII Hubungan PMII dan Alumni PMII adalah hubungan histories,kekeluargaan,kesetaraaan dan kualitatif BAGIAN V HAK DAN KEWAJIBAN ANGGOTA Pasal 7 Hak Anggota: Anggota berhak atas pendidikan, kebebasan berpendapat, perlindungan, dan pembelaan serta pengampunan (rehabilitasi Kewajiban Anggota: Membayar uang pangkal dan iuran pada setiap bulan yang besarnya ditentukan oleh Pengurus Cabang Mematuhi AD/ART, NDP, Paradigma Gerakan serta produk hukum organisasi lainnya Menjunjung tinggi dan mempertahankan nama baik agama Islam, Negara dan organisasi Pasal 8 Hak Kader: Berhak memilih dan dipilih Berhak mendapat pendidikan, kebebasan berpendapat, perlindungan, dan pembelaan serta pengampunan (rehabilitasi) Berhak mengeluarkan pendapat ,mengajukan usul-usul dan pertanyaan-pertanyaan secara lisan maupun secara tulisan Kewajiban Kader : Melakukan dinamisasi organisasi dan masyarakat melalui gerakan pemikiran dan rekayasa sosial secara sehat mulya Membayar uang pangkal dan iuran pada setiap bulan yang besarnya ditentukan oleh Pengurus Cabang Mematuhi dan menjalankan AD/ART, NDP, Paradigma Gerakan dan produk hukum organisasi lainnya Menjunjung tinggi dan mempertahankan nama baik agam Islam, negara dan organisasi BAGIAN V PERANGKAPAN KEANGGOTAAN DAN JABATAN Pasal 9 Anggota dan Kader tidak dapat merangkap dengan keanggotaan organisasi mahasiswa dan atau organisasi kemasyarakatan lain yang bertentangan dengan nilai-nilai yang diperjuangkan oleh PMII Pengurus PMII tidak dapat merangkap sebagai pengurus partai politik dan atau sebagai calon legislatif, calon presiden, calon gubernur dan calon bupati/walikota Perangkapan keanggotaan dan atau jabatan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dan (2) di atas dikenakan sanksi pemberhentian keanggotaan. BAGIAN VI PENGHARGAAN DAN SANKSI ORGANISASI Pasal 10 Penghargaan 1. Penghargaan organisasi dapat diberikan kepada anggota yang berprestasi dan atau mengangkat citra dan mengharumkan nama organisasi. 2. Bentuk dan tata cara penganugrahan dan penghargaan di atur dalam ketentuan sendiri. Pasal 11 Sanksi organisasi Sanksi organisasi dapat diberikan kepada anggota karena: Melanggar ketentuan AD/ART serta peraturan-peraturan PMII Mencemarkan nama baik organisasi. Sanksi yang diberikan pada anggota berbentuk scorsing dan pemberhentian keanggotaan. Anggota yang diberi sanksi organisasi dapat mengajukan banding atau pembelaan dalam suatu mekanisme organisasi yang ditentukan (Tetapi khusus untuk ayat tiga perlu dilanjutkan dalam pasal tambahan tentang mekanisme banding). BAB IV STRUKTUR ORGANISASI, SUSUNAN PENGURUS,TUGASDAN WEWENANG BAGIAN I STRUKTUR ORGANISASI Pasal 12 Struktur organisasi PMII adalah: Pengurus besar Pengurus Koordinator Cabang Pengurus Cabang Pengurus Komisariat Pengurus Rayon BAGIAN II SUSUNAN, TUGAS, WEWENANG DAN PERSYARATAN PENGURUS Pasal 13 Pengurus Besar Pengurus besar adalah pimpinan tertinggi PMII pengemban amanat kongres dan badan eksekutif Masa jabatan pengurus besar adalah 2 (dua) tahun Pengurus besar terdiri dari : Ketua umum Ketua- ketua sebanyak 9 (tujuh) Orang Sekretaris jenderal Sekretaris-sekretaris sebanyak 9 (tujuh) orang Bendahara Wakil bendahara Pengurus lembaga –lembaga Ketua-ketua sepeti yag dimaksud ayat 3 point b membidangi Pengkaderan dan pengembangan sumberdaya anggota. Organisasi, hubungan organisasi umum dan kelembagaan politik. Pengembangan Pemikiran dan IPTEK Pendayagunaan potensi organisasi Hubungan luar negeri dan kerjasama international Pemberdayaan ekonomi dan kelompok profesional Komunikasi Organ Gerakan, Kepemudaan dan Perguruan Tinggi. Advokasi Kebijakan Pablik Ketua umum dipilih oleh kongres Ketua umum PB tidak dapat dipilih kembali lebih dari 1 (satu) periode Pengurus besar memiliki tugas dan wewenang : Ketua umum memilih sekretaris jenderal dan menyusunan perangkat kepengurusan secara lengkap dibantu 6 orang Formatur yang dipilih kongres selambat lambatnya 3 x 24 jam pasca formatur terbentuk Pengurus besar berkewajiban menjalankan segala ketentuan yang yang ditetepkan kongres, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dan peraturan peraturan organisasi lainnya,serta memperhatikan nasehat,pertimbangan dan saran Mabinas Pengurus besar berkewajiban mengesahkan susunan pengurus Koorcab dan Pengurus Cabang Persyaratan Pengurus Besar adalah: Pendidikan formal kaderisasi minimal telah mengikuti PKL Pernah aktif di kepengurusan Koorcab dan atau cabang minimal satu periode Mendapat rekomendasi dari cabang bersangkutan Membuat pernyataan bersedia aktif di PB secara tertulis. Pasal 14 Pengurus Koordinator Cabang PKC merupakan perwakilan PC di wilayah koordinasinya. Wilayah koordinasi PKC minimal satu Propinsi. PKC dapat dibentuk manakala terdapat 2 cabang atau lebih dalam wilayah koordinasi. PKC berkedudukan di Ibu kota Propinsi Masa jabatan PKC adalah 2 (dua) tahun PKC pengurusnya terdiri dari kader terbaik dari PC-PC dalam wilayah koordinasinya PKC terdiri dari: Ketua Umum, 3 Ketua, Sekretaris Umum, 3 Sekretaris, Bendahara Umum dan 1 Wakil Bendahara.dan Biro-Biro Bidang- Bidang PKC: Bidang Internal, Bidang Eksternal dan Bidang Keagamaan Bidang internal meliputi, Kaderisasi dan pengembangan sumber daya anggota, Pendayagunaan potensi dan kelembagaan organisasi, Kajian pengembangan intelektual, dan eksplorai teknologi, dan Pemberdayaan ekonomi dan kelompok profesional. Bidang ekternal meliputi, Hubungan dan komunikasi pemerintah dan kebijakan public, organ gerakan, kepemudaan dan perguruan tinggi, Hubungan lintas agama dan komunikasi informasi, Hubungan dan kerja sama LSM, dan Avokasi, HAM dan lingkungan hidup. Ketua umum PKC dipilih oleh Konferensi Koorcab Ketua umum memilih sekretaris umum dan menyusun PKC selengkapnya, dibantu 6 (enam) Orang formatur yang dipilih oleh konferensi Koorcab dalam waktu selambatnya 3x24 jam PKC baru syah setelah mendapat pengesahan dari PB PMII Ketua Umum PKC tidak dapat dipilih kembali lebih dari satu Periode Ketua Umum KOPRI Wilayah merupakan anggota pleno PKC dan berhubungan koordinatif dengan Ketua Umum PKC dengan garis terputus-putus Persyaratan Pengurus Koorcab : Pendidikan formal kaderisasi minimal telah mengikuti PKL Pernah aktif di kepengurusan cabang minimal satu periode Mendapat rekomendasi dari cabang bersangkutan Membuat pernyataan bersedia aktif di pengurus Koorcab secara tertulis. PKC memiliki tugas dan wewenang: PKC melaksanakan dan mengembangkan kebijaksanaan tentang berbagai masalah organisasi di lingkungan koordinasinya PKC berkewajiban melaksanakan AD /ART,keputusan kongres,keputusan Konferensi Koorcab,peraturan peraturan Organisasi dan memperhatikan nasehat serta saran saran Mabinas/Mabinda PKC berkewajiban menyampaikan laporan kepada PB PMII 6 (enam) bulan sekali. Pelaporan yang disampaikan PKC meliputi, perkembangan jumlah anggota, aktivitas internal dan ekternal. Mekanisme pelaporan lebih lanjut akan ditentukan dalam Peraturan Organisasi. Pasal 15 Pengurus Cabang Cabang dapat dibentuk di kabupaten / kotamadya di daerah yang ada perguruan tinggi dengan persetujuan dan rekomendasi dari PKC dan atau cabang terdekat. Cabang dapat dibentuk apabila sekurang kurangnya ada 2 (dua) komisariat Dalam keadaan dimana ayat (2) di atas tidak dapat dilaksanakan cabang dapat dibentuk apabila telah mencapai 50 (lima puluh) Anggota dan kecuali pada daerah yang mayoritas non muslim. Masa jabatan PC adalah setahun Cabang dapat digugurkan statusnya apabila tidak dapat memenuhi klasifikasi dan kriteria yang ditetapkan oleh PB yang menyangkut standar Program Minimum : Sekurang kurangnya dalam jangka waktu setahun menyelenggarakan Mapaba dan pelatihan kader formal Sekurangnya dalam jangka satu setengah tahun menyelenggarakan Konferensi Cabang Cabang dan Pengurus Cabang dapat dianggap Sah apabila telah mendapat pengesahan dari PB melalui Rekomendasi PKC Apabila Cabang yang Belum Ada PKC nya maka PC dapat memintakan pengesahan langsung dari PB PC terdiri dari: Ketua umum, Ketua bidang Eksternal, ketua bidang Internal, ketua bidang keagamaan, Sekretaris Umum dan sekretaris eksternal dan internal, ,bendahara dan wakil bendaha, dan departemen-departemen Bidang internal meliputi; Kaderisasi dan pengembangan sumber daya anggota, Pendayagunaan Potensi dan Kelembagaan Organisasi,Kajian, Pengembangan Intelektual, dan Eksplorasi Teknologi, dan Pemberdayaan Ekonomi dan Kelompok Profesional. Bidang eksternal meliput; Hubungan dan komunikasi pemerintah dan kebijakan public, Organ gerakan, kepemudaan dan perguruan tinggi, Hubungan Lintas Agama dan Komunikasi Informasi, Hubungan dan Kerja sama LSM, dan Advokasi, HAM dan Lingkungan Hidup. Bila dipandang perlu PC dapat membentuk kelompok minat, profesi ,hobi dan lain sebagainya. Ketua Umum dipilih oleh Konferensi Cabang. Ketua Umum memilih sekretaris Umum dan menyusun PC selengkap-lengkapnya dibantu 6 (enam) orang formatur yang dipilih konfercab dalam waktu selambat lambatnya 3 x 24 jam. Ketua Umum cabang tidak dapat dipilih kembali lebih dari 1 (satu) Periode Pengurus cabang memiliki tugas dan wewenang: a. Menjalankan keputusan AD/ART kongres, keputusan Muspimnas, keputusan konfercab dan memperhatikan nasehat, pertimbangan dan saran Mabincab b. Menyampaikan pemberitahuan kepengurusan dan kegiatan kepada PKC serta kepada PB secara periodik empat bulan sekali. c. Pemberitahuan yang disampaikan kepada PKC meliputi; perkembangan jumlah anggota, aktivitas internal dan eksternal d. Mekanisme pemberitahuan lebih lanjut akan ditentukan dalam Peraturan Organisasi. 15. Persyaratan Pengurus Cabang : Pendidikan formal kaderisasi minimal telah mengikuti PKD Pernah aktif di kepengurusan Komisariat atau Rayon minimal satu periode Mendapat rekomendasi dari komisariat atau Rayon bersangkutan Membuat pernyataan bersedia aktif di pengurus cabang secara tertulis Ketua KOPRI cabang merupakan anggota pleno cabang sehingga berhubungan koordinatif dengan Ketua Umum cabang (dengan garis koordinasi putus-putus) Pasal 16 Pengurus Komisariat Komisariat dapat dibentuk disetiap perguruan tinggi Komisariat dapat dibentuk apabila sekurang-kurangnya telah ada 2 (dua) rayon Dalam keadaan dimana ayat 2 di atas tidak dapat dilaksanakan komisariat dapat dibentuk apabila sekurang kurangnya 25 orang Komisariat dan PK dapat dianggap sah setelah mendapatkan pengesahan dari PC Masa Jabatan PK adalah setahun PK merupakan perwakilan Rayon di wilayah koordinasinya PK terdiri dari ketua, wakil ketua, bidang internal, ketua bidang eksternal dan ketua bidang kajian gender dan emansipasi perempuan, sekretaris dan wakil sekretaris sebanyak 3 (tiga), bendahara dan wakil bendahara Bidang internal meliputi; kaderisasi dan pembinaan sumber daya anggota, pendayagunaan aparatur dan potensi organisasi, dan kelembagaan serta kajian intelektual. Bidang eksternal meliputi; komunikasi dengan pihak instansi kampus di wilayahnya, organ gerakan di kampus. Departemen-Departemen dalam PK dapat mengacu lembaga yang terdapat pada PB PMII. Konsentrasi penuh PK semata-mata adalah melakukan pendampingan dan pemberdayaan kepada Rayon-Rayon di bawah koordinasinya Ketua PK dipilih oleh RTK Ketua memilih sekretaris dan menyusun PK selengkapnya, dibantu 3 (tiga) orang formatur yang dipilih oleh RTK dalam waktu selambatnya 3x24 jam Ketua PK tidak dapat dipilih kembali lebih dari satu periode PK Persyaratan Pengurus Komisariat : Pendidikan formal kaderisasi minimal telah mengikuti PKD Pernah aktif di kepengurusan rayon minimal satu periode Mendapat rekomendasi dari rayon bersangkutan Membuat pernyataan bersedia aktif di pengurus PK secara tertulis. PK memiliki tugas dan wewenang: Melaksanakan keputusan Kongres, Keputusan Muspimnas, dan Muspimda serta keputusan RTK Melakukan pendampinagan dan pemberdayaan terhadap Rayon sepenuhnya Menyampaikan pemberitahuan kepengurusan dan aktivitas kepada kepada PC secara periodik empat bulan sekali. Pemberitahuan yang disampaikan PK meliputi, perkembangan jumlah anggota, aktivitas internal dan ekternal Mekanisme pemberitahuan lebih lanjut akan ditentukan dalam Peraturan Organisasi Pasal 17 Pengurus Rayon Rayon dapat dibentuk di setiap fakultas dan atau jurusan atau setingkatnya apabila terdapat sekurang-kurangnya 10 orang anggota. Rayon sudah dapat dibentuk ditempat yang dianggap perlu oleh PK apabila telah memiliki sekurang kurangnya 10 anggota. Pengurus Rayon dianggap sah apabila telah mendapat pengesahan dari PC. Masa Jabatan PR setahun. Ketua Rayon dipilih oleh RTAR. PR terdiri dari: Ketua, wakil ketua, sekretaris, wakil sekretaris, bendahara, wakil bendahara dan beberapa departemen yang disesuaikan dengan studi minat, hobby, profesi, kesejahteraan, bakti kemasyarakatan dan keagamaan. Persyaratan Pengurus Rayon : Pendidikan formal kaderisasi minimal telah mengikuti PKD dan atau Mapaba. dari rayon bersangkutan. Membuat pernyataan bersedia aktif di pengurus rayon secara tertulis PR memiliki tugas dan wewenang: PR berkewajiban melaksanakan AD/ART, keputusan kongres dan RTAR. PR berkewajiban menyampaikan laporan kepada PK dengan tembusan kepada PC secara periodic. Pelaporan yang disampaikan PR kepada PK meliputi, perkembangan jumlah anggota, aktivitas internal dan ekternal Mekanisme pelaporan lebih lanjut akan ditentukan dalam Peraturan Organisasi. BAB V LEMBAGA-LEMBAGA Pasal 18 Lembaga adalah badan yang dibentuk dan hanya berada ditingkat PB berfungsi sebagai laboratorium dan pengembangan sesuai dengan bidangnya Lembaga lembaga tersebut terdiri dari: Lembaga Pengembangan Kaderisasi dan Pelatihan (LPKP) Lembaga Penelitian dan Pengembangan (LITBANG). Lembaga Kajian dan Pengembangan Ekonomi dan Kewiraswastaan (LPEK) Lembaga Studi Islam dan Kemasyarakatan (LSIK). Lembaga Kebijakan Publik dan Otonomi Daerah (LKPOD) Lembaga Kajian Masalah Internasional (LKMI) Lembaga Kajian Sosial Budaya (LKSB). Lembaga Sains dan Teknologi Informasi (LSTI). Lembaga Pers, Penerbitan dan Jurnalistik (LP2J) Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Lembaga Study Advokasi Buruh, Tani dan Nelayan (LSATN) Lembaga berstatus semi otonom di bawah koordinasi dan bertanggung jawab kepada PB Lembaga tidak punya struktur hierarkhi ke bawah Lembaga sekurang kurangnya terdiri dari: ketua, sekretaris dan bendahara Kedudukan lembaga ditentukan oleh PB setelah mendapat persetujuan PC di tempat lembaga akan didudukkan. Pedoman dan tata kerja lembaga disusun oleh lembaga masing masing dengan mengacu pada ketentuan atau kebijaksanaan yang ditetapkan PB Kebijaksanaan tentang tata kerja, pola koordinasi dan mekanisme organisasi lembaga-lembaga akan diatur kemudian dalam ketentuan tersendiri. BAB VI PENGISIAN LOWONGAN JABATAN ANTAR WAKTU Pasal 19 Apabila terjadi lowongan jabatan antar waktu, maka lowongan tersebut diisi oleh anggota pengurus yang berada dalam urutan langsung di bawahnya Apabila ketua Umum PB, PKC, PC, PK, PR berhenti atau mengundurkan diri maka jabatannya digantikan oleh : apabila Ketua Umum PB jabatan digantikan Ketua Bidang Pengkaderan Apabila Ketua Umum PKC jabatan digantikan ketau Bidang Internal Apabila ketua Umum PC Jabatan digantikan Ketua Bidang Internal Apabila Ketua PK digantikan wakil ketua Apabila Ketua PR digantikan wakil Ketua Dalam kondisi dimana tidak dapat dilakukan pengisisan lowongan jabatan antar waktu, maka lowongan jabatan dapat diisi oleh anggota pengurus lainnya berdasarkan keputusan rapat pengurus harian yang khusus diadakan untuk itu BAB VII KUOTA KEPENGURUSAN Pasal 20 Kepengurusan disetiap tingkat harus menempatkan anggota perempuan minimal 1/3 keseluruhan anggota pengurus Setiap kegiatan PMII harus menempatkan anggota perempuan minimal 1/3 dari keseluruhan anggota BAB VIII PEMBERDAYAAN PEREMPUAN Pasal 21 Pemberdayaan Perempuan PMII diwujudkan dengan pembentukan wadah perempuan yaitu KOPRI Wadah Perempuan Tersebut diatas selanjutnya diataur dalam PO BAB IX WADAH PEREMPUAN Pasal 22 Wadah perempuan bernama KOPRI KOPRI adalah wadah perempuan yang didirikan oleh kader-kader Putri PMII melalui Kelompok Kerja sebagai keputusan Kongres PMII XIV. KOPRI didirikan pada 29 september 2003 Di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta dan merupakan kelanjutan sejarah dari KOPRI yang didirikan pada 26 November 1967. KOPRI bersifat otonom dalam hubungannya dengan PMII Struktur KOPRI terdiri dari: - PB KOPRI - PKC KOPRI - PC KOPRI 6. Kelengkapan KOPRI diatur kemudian dalam AD/ART dan Kongres PMII BAB X MAJELIS PEMBINA Pasal 23 Majelis pembina adalah badan yang terdapat ditingkat organisasi PB, Koorcab dan Cabang Majelis pembina ditingkat PB disebut Mabinas Majelis Pembina ditingkat Koorcab disebut Mabinda Majelis pembina tingkat cabang disebut Mabincab Pasal 24 Tugas dan fungsi Majelis Pembina : Memberikan nasehat,gagasan pengembangan dan saran kepada pengurus PMII baik diminta maupun tidak Membina dan mengembangkan secara informal kader kader PMII dibidang Intelektual dan profesi Susunan Majelis pembina terdiri dari tujuh Orang yakni: Satu orang ketua merangkap anggota Satu orang sekretaris merangkap Anggota Lima orang Anggota Kenggotaan Majelis dipilih dan ditetapkan pengurus di tingkat masing- masing. BAB XI PERMUSYAWARATAN Pasal 25 Musyawarah dalam organisasi PMII terdiri dari dari: Kongres Musyawarah Pimpinan Nasional Musyarah Kerja Nasional Konferensi Koordinator Cabang Musyawarah Pimpinan Daerah Rapat Kerja Koorcab Konferensi Cabang Musyawarah Pimpinan Cabang Rapat Kerja Cabang Rapat Tahunan Komisariat (RTK) Rapat Tahunan Anggota Rayon (RTAR) Kongres Luar Biasa (KLB) Konferensi Koorcab Luar Biasa (Konkorcab LB) Konferensi Cabang Luar Biasa(Konfercab LB) Rapat Tahunan Komisariat Luar Biasa(RTK LB) Rapat Tahunan Anggota Rayon Luar Biasa(RTARLB Pasal 26 Kongres Kongres merupakan forum musyawarah tertinggi dalam organisasi. Kongres dihadiri oleh utusan cabang dan peninjau Kongres diadakan tiap dua tahun sekali Kongres syah apabila dihadiri oleh sekurangnya separuh lebih satu dari jumlah cabang yang sah. Kongres memiliki kewenangan: Menetapkan/merubah AD/ART PMII. Menetapkan dan merubah NDP PMII. Menetapkan paradigma gerakan PMII. Menetapkan strategi pengembangan PMII Menetapkan kebijakan umum dan GBHO. Menetapkan sistem pengkaderan PMII. Menetapkan Ketua Umum dan Tim Formatur. Memilih dan menetapkan Ketua KOPRI PB PMII dan formatur Menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Organisasi Pasal 27 Musyawarah Pimpinan Nasional Musyawarah Pimpinan Nasional Muspim adalah forum tertinggi atau institusi tertinggi setelah kongres. Muspim dihadiri oleh semua pengurus besar,PB KOPRI dan ketua umum PKC, PKC KOPRI dan ketua Umum PC serta PC KOPRI Muspim diadakan paling sedikit satu kali dalam satu periode kepengurusan. Muspim menghasilkan ketetapan organisasi dan PO. Muspim membentuk badan Pekerja Konggres Pasal 28 Musyawarah Kerja Nasional Mukernas dilaksanakan oleh PB PMII. Mukernas dilaksanakan setidaknya satu kali atau lebih selama satu periode. Peserta Mukernas adalah Pengurus Harian PB dan lembaga-lembaga. Mukernas memiliki kewenangan: Membuat dan menetapkan action planning berdasarkan program kerja yang diputuskan di Kongres. Pasal 29 Konferensi Koorcab Konferensi Koorcab Dihadiri oleh utusan cabang Dapat berlangsung apabila dihadiri oleh 2/3 dari jumlah cabang yang sah Diadakan setiap 2 tahun sekali Konferkoorcab memiliki wewenang Menyusun program kerja koorcab dalam rangka pelaksanaan program dan kebijakan PMII Menilai laporan pertanggung jawaban PKC dan PKC KOPRI Memilih ketua umum koorcab dan tim formatur Memilih dan menetapkan Ketua KOPRI PKC PMII Pasal 30 Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspimda) Musyawarah Pimpinan Daerah adalah forum tertinggi atau institusi tertinggi setelah Konferkoorcab. Musyawarah Pimpinan Daerah dihadiri semua PKC, PKC KOPRI dan Ketua Umum PC dan PC KOPRI yang berada dalam wilayah koordinasinya. Musyawarah Pimpinan Daerah diadakan paling sedikit enam bulan sekali, sebelum pelaksanaan Muspimnas. Musyawarah Pimpinan Daerah memiliki kewenangan: Menetapkan dan merubah peraturan organisasi yang mengikat kondisi local, sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi. Evaluasi program selama satu semester baik bidang internal maupun eksternal Mengesahkan laporan organisasi dari berbagai wilayah koordinasi. Pasal 31 Musyawarah Kerja Koorcab Muker Koorcab dilaksanakan oleh PKC paling sedikit satu kali dalam masa kepengurusan Muker Koorcab berwenang merumusken action plan berdasarkan program kerja yang diputuskan di konferkorcab. Pasal 32 Konferensi Cabang Konfercab adalah forum musyawarah tertinggi di tingkat cabang Konferensi dihadiri oleh utusan komisariat dan rayon Apabila cabang dibentuk berdasarkan ART pasal 15 ayat 3 maka konfercab dihadiri oleh setengah anggota yang ada ditambah satu Konfercab dianggap sah apabila dihadiri oleh 2/3 peserta atau suara yang sah Konfercab diadakan satu tahun sekali Konfercab memiliki wewenang: Menyusun program kerja cabang dalam rangka pelaksanaan program kerja umum dan kebijakan PMII Menilai Laporan Pertannggung jawaban pengurus PC dan PC KOPRI Memilih ketua umum dan formatur Memilih dan menetapkan Ketua KOPRI PC PMII dan formatur Pasal 33 Musyawarah Pimpinan Cabang (Muspimcab) Musyawarah Pimpinan Cabang adalah forum tertinggi atau institusi tertinggi setelah konfercab. Musyawarah Pimpinan Cabang dihadiri semua PC dan Ketua Umum PK dan Ketua Umum Rayon. Musyawarah Pimpinan Cabang diadakan paling sedikit empat bulan sekali, sebelum pelaksanaan Muspimda. Musyawarah Pimpinan Cabang memiliki kewenangan: Menetapkan dan merubah peraturan organisasi yang menyangkut kondisi lokal, sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi. Evaluasi program Pengurus Cabang selama catur wulan Mengesahkan laporan organisasi dari PK dan Pengurus Rayon. Pasal 34 Musyawarah Kerja Cabang Menyusun dan menetapkan action plan selama satu periode berdasarkan hasil dari konfercab. Mukercab dilaksanakan PC. Peserta Mukercab adalah seluruh pengurus harian dan badan-badan di lingkungan PC. Pasal 35 Rapat Tahunan Komisariat RTK adalah forum musyawarah tertinggi di tingkat komisariat RTK dihadiri oleh utusan-utusan rayon-rayon Apabila Komisariat dibentuk berdasarkan ketentuan yang tercantum dalam pasal 16 ayat 3 maka RTK dihadiri oleh anggota komisariat RTK berlangsung dan dianggap sah apabila dihadiri minimal 2/3 rayon yang sah RTK diadakan satu tahun sekali RTK memiliki wewenang: Menyusun program kerja komisariat dalam rangka pelaksanaan program kerja umum dan kebijakan PMII Menilai Laporan Pertannggung jawaban pengurus komisariat Memilih ketua komisariat dan Tim formatur Pasal 36 Rapat Tahunan Anggota Rayon RTAR dihadiri oleh Pengurus Rayon dan anggota PMII dilingkungannya. Diadakan setahun sekali Dapat berlangsung dan dianggap sah apabila dihadiri minimal 2/3 jumlah anggota Menyusun program kerja rayon dalam rangka penjabaran program dan pelaksanaan program umum dan kebijakan PMII Menilai laporan kegiatan pengurus rayon. Memilih ketua dan tim formatur. Setiap satu anggota mempunyai satu suara. Pasal 37 Kongres Luar Biasa (KLB) KLB merupakan forum yang setingkat dengan Kongres. KLB diadakan apabila terdapat pelanggaran terhadap Konstitusi (AD/ART dan /atau Peraturan Organisasi) yang dilakukan oleh Pengurus Besar Ketentuan pelanggaaran Konstitusi ditetapkan oleh Mahkamah Konstitusi PMII, yang akan diatur dalam peraturan organisasi. KLB diadakan atas usulan 2/3+1 dari jumlah cabang yang sah Sebelum diadakan KLB, setelah syarat sebagaimana disebut dalam point 2 dan 3 terpenuhi, kepengurusan PB diambil alih oleh Majelis Pembina Nasional (Mabinas), yang kemudian membentuk panitia KLB yang terdiri dari unsur Mabinas dan cabang-cabang. Pasal 38 Konferensi Koordinator Cabang Luar Biasa (Konkoorcab-LB) Konkorcab-LB merupakan forum yang setingkat dengan Konkoorcab Konkoorcab-LB diadakan apabila terdapat pelanggaran terhadap Konstitusi (AD/ART dan /atau Peraturan Organisasi) yang dilakukan oleh Pengurus Koordinator Cabang. Ketentuan pelanggaaran Konstitusi ditetapkan oleh Mahkamah Konstitusi PMII, yang akan diatur dalam peraturan organisasi. Konkoorcab-LB diadakan atas usulan 2/3 dari jumlah cabang yang sah. Sebelum diadakan Konkoorcab-LB, setelah syarat sebagaimana disebut dalam poin 2 dan 3 terpenuhi, kepengurusan Korcab didomisioner dan diambil alih oleh Pengurus Besar, yang kemudian membentuk panitia Konkoorcab-LB yang terdiri dari unsur PB dan cabang-cabang. Pasal 39 Konferensi Cabang Luar Biasa (Konpercab- LB) Konpercab-LB merupakan forum yang setingkat dengan Konpercab. Konpercab-LB diadakan apabila terdapat pelanggaran terhadap Konstitusi (AD/ART dan /atau Peraturan Organisasi) yang dilakukan oleh Pengurus Cabang. Ketentuan pelanggaran Konstitusi ditetapkan oleh Mahkamah Konstitusi PMII, yang akan diatur dalam peraturan organisasi. Konpercab-LB diadakan atas usulan 2/3 dari jumlah komisariat yang sah Sebelum diadakan Konpercab-LB, setelah syarat sebagaimana disebut dalam poin 2 dan 3 terpenuhi, kepengurusan Cabang didomisioner dan diambil alih oleh Pengurus Besar, yang kemudian membentuk panitia Konpercab-LB yang terdiri dari unsur Pengurus Korcab dan Komisariat-komisariat. Pasal 40 Rapat Tahunan Komisariat Luar Biasa (RTK-LB) RTK-LB merupakan forum yang setingkat dengan RTK. RTK-LB diadakan apabila terdapat pelanggaran terhadap Konstitusi (AD/ART dan /atau Peraturan Organisasi) yang dilakukan oleh Pengurus Komisariat RTK-LB diadakan atas usulan 2/3 dari jumlah Rayon yang sah. Ketentuan pelanggaaran Konstitusi ditetapkan oleh Mahkamah Konstitusi PMII, yang akan diatur dalam peraturan organisasi. Sebelum diadakan RTK-LB, setelah syarat sebagaimana disebut dalam poin 2 dan 3 terpenuhi, kepengurusan Komisariat didomisioner dan diambil alih oleh Pengurus Cabang, yang kemudian membentuk panitia RTK-LB yang terdiri dari unsur Pengurus Cabang danRayon-Rayon. Pasal 41 Rapat Tahunan Anggota Rayon Luar Biasa (RTAR-LB) RTAR-LB merupakan forum yang setingkat dengan RTAR.. RTAR-LB diadakan apabila terdapat pelanggaran terhadap Konstitusi (AD/ART dan /atau Peraturan Organisasi) yang dilakukan oleh Pengurus Rayon. Ketentuan pelanggaaran Konstitusi ditetapkan oleh Mahkamah Konstitusi PMII, yang akan diatur dalam peraturan organisasi. RTAR-LB diadakan atas usulan 2/3 dari jumlah anggota. Sebelum diadakan RTAR-LB, setelah syarat sebagaimana disebut dalam poin 2 dan 3 terpenuhi, kepengurusan Rayon didomisioner dan diambil alih oleh Pengurus Cabang, yang kemudian membentuk panitia RTK-LB yang terdiri dari unsur Pengurus Komiasriat dan anggota Rayon Pasal 42 Penghitungan Anggota Setiap anggota dianggap mempunyai bobot manakala telah ditetapkan oleh PB berdasarkan pelaporan organisasi yang disampaikan PKC dan PC. Ketentuan pelaporan anggota akan ditentukan dalam peraturan organisasi Pasal 43 Quorum dan Pengambilan Keputusan Musyawarah, konperensi dan rapat-rapat seperti tersebut dalam pasal 25 ART ini adalah sah apabila dihadiri oleh lebih dari setengah jumlah peserta. Pengambilan keputusan pada dasarnya diusahakan sejauh mungkin secara musyawarah untuk mufakat dan apabila hal ini tidak tercapai maka keputusan diambil berdasarkan suara terbanyak. Keputusan mengenai pemilihan seseorang dilaksanakan secara bebas dan rahasia. Dalam hal pemilihan terdapat suara yang seimbang, maka pemilihan diulang kembali. Manakala dalam pemilihan kedua masih terdapat suara yang sama, maka akan ditentukan dengan mekanisme undi (qur’ah) yang dipimpin pimpinan sidang dengan asas musyawarah dan kekeluargaan PERUBAHAN DAN PERALIHAN Pasal 44 Perubahan Perubahan ART ini hanya dapat dilakukan oleh Kongres dan Referendum yang khusus diadakan untuk itu. Keputusan ART baru sah apabila disetujui oleh 2/3 jumlah cabang yang sah. Pasal 45 Peralihan Apabila segala badan-badan dan peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh ART ini belum terbentuk, maka ketentuan lama akan tetap berlaku sejauh tidak bertentangan dengan ART ini. Untuk melaksanakan perubahan organisasi harus dibentuk penitia pembubaran, guna menyelesaikan segala sesuatu diseluruh jajaran organisasi. Kekayaan PMII setelah pembubaran diserahkan kepada organisasi yang seas as dan setujuan. BAB XII PENUTUP Pasal 46 Hal-hal yang belum diatur dalam ART ini akan ditetapkan oleh PB dalam peraturan Organisasi. ART ini ditetapkan oleh Kongres sejak tanggal ditetapkan. Ditetapkan pada : Kongres XV PMII Bogor Jawa Barat Tahun 2005 PENJELASAN ANGGARAN RUMAH TANGGA PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup Jelas Pasal 2 Cukup Jelas Pasal 3 Cukup Jelas Pasal 4 Cukup Jelas pasal 5 Cukup Jelas pasal 6 Cukup Jelas pasal 7 Cukup Jelas pasal 8 Cukup Jelas pasal 9 Cukup Jelas pasal 10 Berjasa kepada organisasi adalah perhatian dan kontribusi kepada organisasi yang dilakukan secara intensif dan berulang-ulang dan/atau telah turut serta menyelamatkan organisasi dalam keadaan dan situasi tertentu dan/atau telah membantu memajukan, mengharumkan dan menyebar-luaskan nama baik organisasi kepada masyarakat dan dunia internasional Penghargaan dapat diberikan dalam bentuk sertifikat, cinderamata, bintang kehormatan dan medali pasal 11 b. non-aktif adalah pemberhentian sementara status pengurus atau anggota yang disebabkan karena berstatus sebagai pelanggar. Pengurus dan anggota yang berada dalam status non-aktif dilarang melakukan kegiatan dan/atau mengatas namakan organisasi dalam keadaan dan situasi apapun pasal 12 Cukup Jelas Pasal 13 Cukup Jelas pasal 14 Cukup Jelas Pasal 15 Cukup Jelas pasal 16 Cukup Jelas pasal 17 Cukup Jelas pasal 18 Cukup Jelas pasal 19 Cukup Jelas pasal 20 Cukup Jelas pasal 21 Cukup Jelas pasal 22 Cukup Jelas pasal 23 Cukup Jelas pasal 24 Cukup Jelas pasal 25 Cukup Jelas pasal 26 Cukup Jelas Pasal 27 pasal 28 Cukup Jelas pasal 29 Cukup Jelas pasal 30 Cukup Jelas pasal 31 Cukup Jelas pasal 32 Cukup Jelas pasal 33 Cukup Jelas pasal 34 Cukup Jelas pasal 35 Cukup Jelas pasal 36 e. (Mekanisme KLB) Penandatanganan petisi dilakukan dengan mekanisme sebagai berikut: Bila telah terkumpul tanda tangan PC sekurang-kurangnya 50% + 1, selanjutnya dikirm utusan untuk menyampaikan petisi tersebut kepada Mabinas Mabinas diwajibkan untuk melakukan verifikasi tentang keabsahan petisi tersebut. Apabila petisi tersebut dinyatakan valid, Mabinas wajib membentuk kepanitiaan yang terdiri dari unsur Mabinas dan Pengurus Cabang. Selanjutnya Panitia mengagendakan waktu pelaksanaan dan mengundang PC untuk mengadakan KLB. pasal 37 Cukup Jelas pasal 38 Cukup Jelas pasal 39 Cukup Jelas pasal 40 Cukup Jelas pasal 41 Cukup Jelas pasal 42 Cukup Jelas pasal 43 Cukup Jelas pasal 44 Cukup Jelas
More aboutAD/ART PMII

Memaknai Kebutuhan Kaderisasi & Persoalan Bangsa

Diposting oleh admin


oleh Irfan Ryosadi*

Sepanjang sejarah kemerdekaannya, Indonesia belumlah benar-benar merdeka. Kenapa? Karena yang menentukan arah dan kebijakan pemerintah Indonesia bukanlah kepentingan rakyat dan bangsanya sendiri tetapi kepentingan kekuatan-kekuatan lain yang lebih berpengaruh. Pendek kata, kita adalah bangsa yang setengah merdeka. Secara fisik merdeka, tetapi jiwa dan pikiran kita dikuasai oleh nalar kolonialisme. Dan ini jauh lebih berbahaya daripada penjajahan fisik. Dewasa ini, kehadiran kolonialisme dalam bentuk barunya sudah tidak dapat ditutup-tutupi lagi walaupun hadir melalui wajah ideologi ekonomi-politik yang dijalankan oleh aparatur negara. Negara, dengan kata lain, telah kehilangan perannya sebagai pelindung rakyat. Dengan dalih, bahwa konsep negara-bangsa telah berakhir (lihat bacaan-bacaan yang menarasikan tentang the end of nation-state atau the end of welfare state) karena tekanan globalisasi yang menuntut dihapuskannya territorial borders antar negara, maka negara tidak mempunyai pilihan lain kecuali mengikuti kehendak komunitas global. Tantangan kita ke depan adalah bergerak di antara tekanan dari komunitas global dan ketidakmampuan komunitas lokal dalam merespons berbagai perkembangan yang tidak dapat dihindarkan.
Selama ini, cara kita memandang kepulauan Nusantara cenderung bersifat kontinental, mengabaikan kenyataan bahwa kepulauan itu terpisah oleh selat-selat dan lautan. Jika selama ini kita menganggap bahwa negara-bangsa Indonesia adalah sebuah konsep yang taken-for-granted, maka kita harus menyadari nalar konstruksi nation-state tersebut. Dalam memandang Indonesia, kita menganggapnya sebagai sebuah konsep yang baku yang tidak meniscayakan adanya perubahan, sementara dalam realitasnya, ada banyak sekali unsur-unsur sub-nation yang dipaksakan masuk dalam wadah sebuah komunitas yang dibayangkan sebagai Indonesia ini. Komunitas yang disebut sub-nation adalah realitas sementara komunitas nasional yang bernama Indonesia adalah imajinasi. Justru, ketika proses character and nation building belum tuntas, muncul konsep globalisasi yang memporak-porandakan bangunan negara-bangsa kita yang tiang-tiangnya belum kokoh. Konsep negara-bangsa adalah konsep yang berasal dari Barat sebagai tawaran bagi bangsa-bangsa yang baru lepas dari penjajahan bangsa-bangsa Barat. Artinya, bangsa-bangsa eks koloni tidak akan dibiarkan menuntaskan agenda yang justru merupakan blue-print dari negara-negara maju. Lihatlah, mulai dari konsep negara-bangsa, pembangunan, sampai liberalisasi semuanya tidak berjalan sepenuhnya, dibiarkan mengambang pada level quasi-state (atau quasi-nation).
Sementara itu, pada aras produksi pengetahuan semuanya berbasis pada nalar orientalisme, meminjam alat dan hasil baca ‘orang lain’ untuk melihat diri sendiri. Ada satu kuasa yang menentukan jenis dan trend wacana yang harus dikonsumsi pada saat tertentu, yang menentukan mana pengetahuan yang diakui dan mana yang subversif. Wacana-wacana yang diakui adalah produk dari sebuah rangkaian skenario yang berlatar dominasi dan hegemoni. Inilah yang dimamah-biakkan di kampus-kampus kita, sehingga produk dari pendidikan kita sudah dapat ditebak hasilnya: munculnya generasi-generasi yang asing dari permasalahan bangsanya, dari jati diri dan suasana batin kebangsaannya.
Pada aras gerakan dan ormas, semuanya terjebak pada mainstream, tidak mampu keluar dari jebakan-jebakan wacana dan kuasa yang menebarnya. Ambillah contoh semisal, dikotomi tradisional-modern yang membelah Islam pada paruh kedua abad XX. Sekarang terlihat dalam drama Islam Radikal dan Islam Liberal. Pada pihak Islam, tersebar wacana ancaman sekularisasi yang dibawa oleh kaum nasionalis, sementara pada pihak nasionalis yang beredar adalah ancaman Islamisasi atau politik Islam. Itu semua karena kita tidak mampu menjelaskan diri kita sendiri dengan bahasa dan kosa-kata kita sendiri. Agar dibilang modern kita mencocok-cocokkan istilah Barat dengan fenomena domestik yang lain sama sekali urutan dan duduk perkaranya.
Oleh karena itu, PMII sebagai organisasi kader yang menyadari dengan sepenuhnya permasalahan kebangsaan ini perlu untuk membuat semacam “Kader Pelopor” di bidang pengkaderan agar mampu mengatasi jurang pemisah yang begitu dalam antara pengetahuan yang diakui dengan kenyataan bangsa Indonesia ini. Secara simplistis dapat diuraikan bahwa tujuan “Kader Pelopor” yang kita maksud ini adalah untuk: Pertama untuk menciptakan kader-kader yang memahami berbagai masalah kebangsaan dan mengetahui retakan-retakan dan patahan-patahan sejarah bangsanya; Kedua memperkuat loyalitas dan integritas kader terhadap visi-visi kebangsaan dari organisasinya; dan Ketiga mendidik kader-kader yang siap bekerja serta mempunyai pandangan jauh kedepan untuk kepentingan dan masa depan bangsanya.
Memang, ini bukan hanya tugas pengkaderan yang ringan karena kita harus mampu bergerak di luar mainstream, atau di wilayah yang marginal secara publisitas dan kewajaran, bahkan mungkin dipandang sebagai sesuatu yang gila dan aneh, Tetapi bukankah sejarah akan berubah oleh kegilaan? apa yang bisa kita lakuakan tentunya bukan perkara yang mudah untuk PMII mampu menghadirkan kader kader kita yang mampu memecahkan masalah dalam bangsa ini.
(earfund)

Sekretaris Bidang Pengembangan Organisasi dan Kaderisasi PMII Jawa Tengah
More aboutMemaknai Kebutuhan Kaderisasi & Persoalan Bangsa