Sejarah PMII Solo (17), PMII DITENGAH DUNIA KEMAHASISWAAN DAN KEPEMUDAAN.

Diposting oleh admin on Jumat, 16 April 2010

Sebagai organisasi mahasiswa maka pada hakekatnya PMII juga secara biologis adalah organisasi pemuda, oleh karena itu aktifitas PMII disamping berkiprah aktifitas kemahasiswaan juga turut aktif dalam aktifitas kepemudaan. Yang patut dicatat dalam aktifitas PMII pada forum kemahasiswaan dan kepemudaan adalah aktifitas yang dilaksanakan antara tahun 1965-1968 hal ini berkenaan pula dengan lahirnya satu angkatan baru dalam dunia kepemudaan Indonesia yang akhirnya angkatan ini dikenal dengan istilah “ANGKATAN 66”. 
Kelahiran angkatan 66 merupakan satu reaksi total terhadap kebijaksanaan Presiden Soekarno yang membiarkan PKI dan antek-anteknya tetap hidup dibumi pertiwi kendatipun sudah jelas mereka sangat bersalah dengan melakukan tindakan Gerakan 30 Septembernya. Rezim Soekarno tidak mampu mengambil tindakan tegas terhadap PKI itu antara lain diakibatkan kekhawatiran beliau akan reaksi pemerintah komunis di Cina pada waktu itu merupakan teman akrab pemerintah presiden Soekarno dalam menghadapi konfrontasi Malaysia dan Negara-negara barat. 
Tetapi dengan tindakan Soekarno seperti ini (membiarkan PKI tetap hidup) berakibat sangat patal karena makin banyaknya orang-orang yang tidak puas kepada rezim Soekarno terutama mereka yang dulu banyak yang mendapat fitnah dari PKI beserta antek-anteknya. Keadaan yang sedemikian itu lebih diperburuk lagi dengan makin tidak mampunya pemerintah dalam menangani persoalan-persoalan ekonomi. Ditambah pula dengan ketidak mampuan lembaga legislative dalam menjalankan fungsi kontrolnya terhadap pemerintah. 
Mahasiswa sebagai genrasi muda yang intlek tepanggil hati nuraninya untuk membela kepentingan rakyat, karena mereka melihat lembaga lgislatif tidak mampu berfungsi menjalankan peranannya serta tertutupnya saluran dialog dengan pemerintah (sebernya pernah diadakan dialog antara mahasiswa dengan presiden Soekarno tetapi tidak membawa hasil, pen). Maka mahasiswa mengambil alih peranan legislative ini dengan gerakan protes dijalan-jalan raya merreka menyampaikan aspirasi rakyat yang terkenal dengan TRITURA (Tiga Tuntutan Hati Nurani Rakyat). 
Mulai saat itulah gerakan mahasiswa, pemuda dan pelajar dikenal dengan istilah baru “gerakan parlemen jalanan”. Adanya gerakan parlemen jalanan ini dapat dimungkinka karena terciptanya suasana pendidikan politik yang memungkinkan mahasiswa pemuda dan pelajar matang berpolitik akibat system politik yang dikembangkan pemerintah pada waktu itu.

Sebelum kita membicarakan tentang kelahiran dan kebangkitan angkatan 66 ini ada baiknya kita menengok sebentar perjalanan generasi muda khususnya generasi muda islam dalam sejarah kepemudaan Indonesia. Disini pula kita akan melihat sejauh mana peranan PMII ada.
More about → Sejarah PMII Solo (17), PMII DITENGAH DUNIA KEMAHASISWAAN DAN KEPEMUDAAN.

Sejarah PMII Solo (16),

Diposting oleh admin

Satu hal yang sangat menggembirakan dalam MUKERNAS II PMII ini lahir badan korp PMII atau sering dikenal dengan singkatan Corp PMII Putri. Corp PMII Putri lahir bersamaan dengan upacara penutupan MUKERNAS PMII tersebut, yakni pada tanggal 25 Nopember 1967. Kelahiran Copri ini merupakan upaya “penaikan” peran dan kedudukan putri ataupun Departemn keputrian PMII. Pada mulanya kedudukan pengurus pusat Copri di Jakarta tetapi karena mengalami kelambanan-kelambanan bergerak maka melalui salah satu hasil keputusan MUBES pertama PMII di Leles Garut pada bulan Januari 1969, ditetapkan pemindahan kedudukan Copri pusat ditempat kedudukan PMII wilayah Jawa Timur yaitu Surabaya. Kepengurusan Copri pusat dilantik bersamaan dengan ulang tahun ke IX dan Konferensi PMII wilayah jawa Timur III di Kediri. Adapun susunan pngurus Copri Pusat adalah:
Ketua                               : Shbi. Ismi Maryam BA
Ketua I                             : Shbi. Zazilah Rahman BA
Ketua II                           : Shbi. Siti Fatimah Bsc
Ketua III                          : Shbi. Adibah Hamid
Sekretaris                         : Shbi. Maryam AH BA
Sekretaris I                       : Shbi. Siti Rahayu Bsc
Sekretaris II                     : Shbi. Aminah Asrof BA
Sekretaris III                    : Shbi. Asiah Gani
Bendahara I                     : Shbi. Chusnul Chotimah
Bendahara                        : Shbi. Laila Badriah
Seksi-seksi / Biro-biro      :
Kader                               : Shbi. Fatimah Aminah BA
Da’wah                            : Shbi. Noor Endah Nizar
Penerangan                       : Shbi. Mutmainah Paliweng
Olah raga dan Seni           : Shbi. Cicik Mursyidah
Pembntu Umum               : Shbi. Siti Rahmah Ismail Bsc
                                         : Shbi. Maryam Bakir BA
                                         : Shbi. Zamroh Dibab BA
Adpun kegiatan-kegiatan yang berhasil dilaksanakan Corp PMII putri pusat adalah :
-       Menyempurnakan Landasan Dasar Copri
-       Mengorganisir danmembimbing pembentukan Copri cabang / wilayah
-       Mempersiapkan MUNAS COPRI di Makasar
-       Membuat pedoman administrasi / keseragaman Copri
-       Musyawarah antar lembaga bersama PP PMII di Lawang Malang
-       Mengadakan Work Shop Ledership dengan LKP PMII tentang pedoman Training Keputrian PMII
-       Membentuk perwakila Copri Pusat di Jakarta, sebagai wakil Copri pusat untuk mengikuti siang-sidang Pleno PP PMII dan mengadakan komunikasi kedalam (intern partai) dan keluar (organisasi wanita yang lain).[1]
13. Keterlibatan PMII dalam aktivitas politik praktis pad masa transisi (1966-1968) juga sangat meningkat. Hal ini antara lain terbukti dengan keterlibatan PMII pada aktivitas PB NU yang mengirimkan delegasi untuk menghadap pejabat Preiden Soeharto, dalam menyampaiakan keberatan-keberatan partai NU atas tindakan pejabat presiden yang mengadakan penambahan anggota DPR GR dan pergantian beberapa anggota DPRGR yang dinilai tidak sesuai dengan aspirasi politik orde baru. Adanya pelaksanaan pegantian dan penambahan jumlah anggota DPRGR ini dikarenakan merupakan salah satu upaya dari pemerintah orde baru untuk mengadakan langkah restrukturisasi kegiatan politik untuk menjamin kelangsungan orde baru, salah satu restrukturisasi itu adalah menambah jumlah anggota DPRGR sehingga merubah keseimbangan komposisi kekuatan partai politik didalam parlemen yang sebelumnya kekuatan partai politik cukup menentukan dengan menambah jumlah anggota DPRGR dari golongan fungsional yang merupakan cikal bakal Golongan KArya sekarang ini. Maka dapat dimungkinkan akan terjaminnya segala kehendak dari pemerintah baru tersebut. Adanya tindakan pejabat presiden seperti itu menimbulkan protes keras dari partai NU dan melalui juru bicaranya Drs. Zamruni partai NU mengemukakan dua hal :
- Pejabat politik kurang mempercayai kerja sama dengan kekuatan-kekuatan politik yang ada sekarang; dan hal ini dapat mengganggu adanya saling mempercayai antar partai-parti dengan presiden.
- Bahwa seolah-olah pemerintah tidak mau menerima koreksi dari DPR GR sebab justru pemerintah sedang menghadapi kesulitan-kesulitan dibidang ekonomi, kemudian lalu disusun DPR GR yang sesuai dengan pendapat pemerintah.[2]
                        Walaupun protes keras dari B NU itu akhirnya kurang ihiraukan oleh pejabat presiden tetapi ini merupakan kegiatan awal dari PMII yang akhirnya PMII terlibat sangat dalam pada persoalan-persoalan politik, lebih-lebih setelah dua orang anggota PMII yakni, sahabat M. Zamroni BA (aktifias) dan sahabat hatta Mustafa masuk menjadi anggota DPRGR yang mewakili kesatuan AKSI. Keterlibatan PMII dalam politik praktis ini akan semakin menigkat terutama menjelang ketika & sesudah pemilu tahun 1971. Dampak positif yang dihasilkan memang ada, boleh dikatakan hampir pimpinan-pimpinan partai (NU) yang jadi anggota DPR dan berperan aktif adalah alumni PMII, tetapi akibat negatifnya juga ada PMII melupakan tugasnya sebagai organisasi mahasiswa yang sebenarnya harus lebih banyak aktif dalam dunia kemahasiswaan dam kemasyarakatan. Akibat yang lebih jauh adalah PMII melupakan kegiatan “pengkaderannya” dan akhirnya pil pahit harus ditelan PMII ketika setapak demi setapak PMII tergeser posisinya dari “perguruan tinggi umum”.
14. Hal yang menarik juga dari perjalanan PMII pada masa kebangkitan pertama ini adalah keterlibatan PMII dalam kemelut partai NU. Seperti kita ketahui pada tahun-tahun awal orde baru pimpinan muda partai NU yakni Bapak Subhan ZE selaku ketua III PB NU terlibat polemic yang cukup sengit dengan pihak pemerintah tentang berbagai macam persoalan terutama persoalan politik. Juga prilaku ketua III PB NU ini yang sedikit kebarat-baratan banyak disorot oleh pimpinan NU yang lain terutama dari kalangan Ulama (pengurus syuriah).
                               Sehubungan dengan tindakan bapak Subhan ZE itu maka banyak kalangan pimpinan NU yang khawatir kalau-kalau tindakannya itu akan berakibat buruk terhadap partai NU sendiri, maka melalui surat keputusan pengurus besar Syuriah NU Nomor 011/KPTS/RANU/V/1967, tertanggal Jakarta 22 Mei 1967 menjatuhkan sekorsing kepada HM. Subhan ZE selaku katua PII PB NU. Dengan adanya keputusan PB Syuriah NU ini maka PMII dengan ditemani IPNU dan IPPNU mengeluarkan pernyataan bersama yang dikeluarkan di Jakarta tertanggal 29 Mei 1967 dimana pimpinan PMII waktu itu dipegang oleh ketua Umum sahabat M. Zamroni BA, IPNU oleh ketua umumnya Asnawi Lathif BA sedangkan IPPNU ketua umumnya Nyonya Mahsanah AS BA, adapun surat penyataan itu isinya adalah : dalam garis besarnya sebagai berikut :
-       Pernyataan bahwasanya PMII IPNU dan IPPNU selaku komponen generasi muda NU mempunyai kewajiban moral untuk tetap konsekuen atas asas perjuangannya dan tetap dalam garis kebenaran dan keadilan yang telah digariskan partai secara keseluruhan dibawah pimpinan para Ulama.
-       PMII IPNU dan IPPNU meragukan surat keputusan sekorsing terhadap diri HM. Subhan ZE selaku ketua III PBNU.
-       Mengharapkan kepada MUKTAMAR melalui pengurus besar NU agar masalah yang menyangkut persoalan ini dibaas dan diselesaikan secara obyektif atas dasar konstitusi yang berlaku, musyawarah mufakat dan tetap memegang teguh kebenaran dan keadilan tanpa pandang bulu.[3]

Keterlibatan PMII dalam kemelut tubuh NU merupakan hal yang wajar karena memang PMII pada waktu itu merupakan anak NU, tetapi akibat negatifnya akan berdampak sangat luas dengan terkotakkotak pengurus PMII mengikuti arus kepemimpinan yang beraneka ragam dan banyak bertentangan dalam tubuh NU sendiri

[1]  Ibid, hal 7.
[2]  Surat PP PMII Nomor : 206/PP-IV/II-68, hal Penjelasan Sekitar Redesing dan Refresing DPRGR, tertanggal Jakarta 20 Peb, 1968.
[3]  Pernyataan bersama pucuk pimpinan PMII, IPNU & IPPNU tertanggal Jakarta 29 Mei 1967.
More about → Sejarah PMII Solo (16),

Sejarah PMII Solo (15)

Diposting oleh admin

A.  PEDOMAN KESERAGAMAN ADMINISTRASI – SEKRETARIAT PMII
Pedoman ini mengatur tentang pelaksanaan keadministrasian (tata usaha) dan kesekretariatan PMII. Pedoman keseragaman dan administrative – secretariat PMII meliputi beberapa hal peraturan tentang :
1.    Hak, tugas dan kewajiban sekretaris; secara rutin sekretaris harus dapat menyusun acara dan program kegiatan organisasi dan menangani persoalan-persoalan ketata usahaan dan keorganisasian bersama Ketua atau yang lainnya, mengatur dan menyelesaikan surat menyurat, baik surat masuk maupun surat keluar, dan menyusun dokumentasi organisasi dari kegiatan intern maupun ekstern.
2.    Pedoman ini juga mengatur tentang surat menyurat. Adapun hal-hal yang diatur dalam pedoman ini :
a.    Kop surat dan formatnya
b.    Pembukaan dan penutup surat
3.    Pedoman ini mengatur juga tentang jenis surat dan nomor kode
4.    Pedoman penyelenggaraan administrasi dan secretariat mengatur juga tentang stempel dan warna tintanya; bentuk stempel dalam organisasi PMII adalah empat persegi panjang dengan strip garis yang sejajar di tepinya, dan ukuran stempel panjang 6 cm dan lebar 3 cm. Adapun warna tinta stempel adalah merah.
5.    Hal yang juga diatur dalam pedoman keseragaman administrasi adalah papan nama organisasi PMII. Untuk bentuk papan nama dan ukuran-ukurannya sebenarnya telah ditetapkan dalam peraturan PP Nomor 1 tahun 1964 tertanggal 11 Maret 1964 sebagai berikut :
Ukuran papan nama PMII 1,5 X 0,8 M, warna papan nama; merah dasar putih, huruf isi biru tua, lambang PMII 4 warna, yaitu biru tua, biru muda, kuning dan putih. Bentuk dan isi papan nama tersebut sama dan sesuai dengan bentuk dan isi stempel (untuk lebih jelasnya lihat lampiran).
6.    Diatur juga dalam pedoman ini tentang bendera PMII dengan ketentuan sebagai berikut :
-       Ukuran bendera 120 cm X 80 cm.
-       Warna dasar : kuning
-       Warna isi : biru tua, biru muda, kuning dan putih.
-       Isi bendera : huruf PMII yang disusun membujur ke bawah terletak di sebelah tepi kiri dengan warna biru tua. Dan lambang PMII terletak di tengah-tengah bendera.
1.    Pengaturan selanjutnya tentang selempang kalung untuk pimpinan yang ketentuannya sebagai berikut :
-       Warna : biru tua, biru muda, dan kuning.
-       Pada pertemuan kedua ujung selempang tersebut terdapat lambang PMII yang terbikin dari logam dan berbentuk segi  lima serta bergaris tengah 10 cm.
-       Panjang selempang dengan lambangnya kira-kira sampai dibawah pusat lebih sedikit.
Pedoman keseragaman administrative – secretariat PMII ini ditetapkan di Jakarta tertanggal 28 Maret 1968 dan masuk dalam peraturan pucuk pimpinan PMII Nomor 1 tahun 1968 yang ditandatangani oleh shb. M. Zamroni BA dan Shb. Drs. Med Fahmi Ja’far selaku ketua Umum dan sekretaris umum pucuk pimpinan pergerakan mahasiswa Islam Indonesia.
2.      Rupanya PMII yang baru berusia Sewindu ini (1960-1967) telah juga memikirkan perlunya wadah alumni untuk membantu pelaksanaan tugas-tugas pergerakan maupun memanfaatkan potensi mereka untuk ikut aktif terlibat dalam arus pembangunan. Maka melalui Surat PP PMII Nomor 070/PP-IV/VIII/67 tertanggal 22 Agustus 1967 telah dikeluarkan satu instruksi tentang Registrasi alumni PMII dengan beberapa ketentuan pencatatan biodatanya sebagai berikut:
-       Nama alumni
-       Menjadi anggota PMII sejak tahun berapa ……….sampai tahun……..(juga sebutkan dari PMII cabag mana)
-       Jabatan terakhir dalam pimpinan / pengurus PMII
-       Alamat alumni pada saat sekarang ini
-       Jabatan alumni yang dipegangnya pada saat sekarang ini
-       Lain-lain yang dianggap perlu bisa ditambahkan.[1]
Adanya registrasi alumni PMII ini merupakan langkah awal dari persiapan PMII sendiri untuk membentuk Korrp alumni yang sebenarnya merupakan hal yang sangat penting dalam setiap organisasi, adanya wadah alumni ini diharapkan akan adanya keterpautan benang merah yang terus menerus antara para alumni PMII ataupun antara anggota dengan para alumninya serta berfungsi pula sebagai dewan pembimbing pergerakan. Sayang usaha yang telah dirintis sejak tahun 1967 ini sampai detik ini belum merata benar hasilnya, hanya beberapa cabang saja dalam PMII yang telah berhasil membentuk wadah alumninya, kesulitan yang timbul dari pembentukan wadah alumni ini diantaranya banyak diakibatkan karena terkotak-kotaknya para alumni dalam wadah organisasi social politik yang saling bertentangan dan juga karena factor obyektif dari para alumni PMII sendiri.
3.      Sebagai upaya dari penjabaran realisasi program hasil kongres III PMII di Malang tersebut, maka pada tanggal 21-26 Nopember 1967 di Semarang diadakan MUSYAWARAH KERJA NASIONAL II. MUKERNAS II PMII ini sungguh besar sekali maknanya bagi perjalanan hidup pergerakan, karena dalam arena MUKERNAS inilah berhasil dirumuskan pola kerja program “PERGERAKAN” dan berhasil pula lahir lembaga-lembaga non structural yangbertugas mambantu keringanan beban dari pucuk pimpinan. Adapun beberapa lembaga yang berhasil dilahirkan dalam arena MUKERNAS ini adalah:
1.1.   Lembaga Pendidikan Kader Pusat (LPKP PMII)
Lembaga pendidikan Kader Pusat ini merupakan langkah lanjut dari rumusan hasil-hasil training Course II dan Kongres ke III di Malang, LPKP kepengurusan dilantik pada tanggal 28 Nopember 1967 dan operasionalisasi program kerjanya dipusatkan dikota pelajar Jogjakarta. Adapun susunan personalia pengurus Lembaga Pendidikan Kader Pusat PMII adalah sebagai berikut :
Ketua                               : Shb. Joko Purwono (SH)
Ketua I                             : Shb. Abdillah Sarwani (SH)
Ketua II                           : Shb. Sabirin Harahap Bsc
Sekretaris                                     : Shb. Ahmad Sumali Ama
Sekretaris I                       : Shb. Hamzah Siddiq
Sekretaris II                     : Shb. Sofyan Sukri
Seksi Laboratorium          : Shb. Drs. Asip Hadipranata beserta staf
Seksi Logistik                  : Shb. Saefuddin Anwar Bsc
Belum satu tahun lambaga ini berdiri karena satu lain hal maka diadakan penyegaran pengurus sehingga personalia kepengurusan menjadi:
Ketua                               : Shb. Sabirin harahap bsc
Ketua I                             : Shb. Sholeh harun BA
Ketua II                           : Shb. A. Somali Ama
Sekretaris                         : Shb. Drs. Sofyan Sukri
Sekretaris I                       : Shb. Samsul Anam
Sekretaris II                     : Mojono MA
Seksi Laboratorium          : Shb. Asip Hadipranata
                                         : Shb. Drs. Dalil Ajisubroto
                                         : Shb. Drs. Sumali RD
                                         : Shb. Joko Purwanto (SH)
Seksi Logistik                  : Shb. Asrori Nasucha
Pembantu Keputrian        : Shbi. Elok Faiqoh Muhamad
                                         : Shbi. Saadah
                                         : Shbi. Lilin Sri Suyati
                                         : Shbi. Lilik Haryati
                                         : Shbi. Charirah Anwar
                                         : Shbi. Istianah
Adapun kegiatan-kegiatan yang berhasil dilaksanakan oleh LPKP PMII adalah :
-       Mengadakan penyempurnaan pedoman penyelenggaraan kader PMII
-       Mengadakan Instruktur Training Course tiga kali
-       Mengadakan Intermediet Training Course tiga kali
-       Mengadakan Basic training Course dua belas kali
-       Mengadakan asisten ITC (yang setingkat dengan Intermediet training Course satu kali)[2]
Kalau kita amati dari kegiatan LPKP ini sebenarnya boleh dikatakan terlalu minim frekuensinya bila dibandingkan dengan jumlah cabang-cabang PMII yang ada yakni sebanyak 109 buah cabang, akibat dari keminiman latihan Kader ini PMII kelak akan mengalami zaman kelesuan ditambah lagi dengan adanya perubahan politik yang dijalankan oleh pemerintah Orde Baru dimana kebijaksanaan pemerintah amat mengurangi parpol kehidupan masyarakat, akibat langsung yang diderita PMII, sebagai anak NU PMII juga mengalami kelesuan bahkan hampir-hampir lumpuh. Sedikit beruntung PMII artinya mampu bangkit seusai musyawarah besar MURNAJATI dimana PMII menyatakan dirinya independent dan hanya akan berpihak pada tujuan organisasi dan kepentingan umat belaka.
1.2.   Lembaga Dakwah pusat (LDP PMII)
Lembaga dakwah Pusat PMII juga salah satu dari lembaga non structural yang berhasil dilahirkan dalam MUKERNAS II di Semarang. LDP PMII ini sesuai dengan fungsi dan peranannya serta pertimbangan-pertimbangan sumber daya manusia maka LDP PMII berpusat dikota Malang. Sedangkan susunan LDP PMII adalah sebagai berikut :
Ketua                               : Shb. EN. Syahid Wiyoto
Wakil Ketua                     : Shb. A. Hasyim muzadi
Sekretaris                                     : Shb. Dhimiyathi Uryanto
Wakil Sekretaris               : Shb. Abdurahman Marsaid
Keuangan                         : Shb. M. Subchi Hasbi
Biro-biro                           :
Biro Riset                         : Shb. Sawihi Garetta
Biro Pendidikan Kader    : Shb. Sanusi
Biro Da’wah                    : Shb. Zamhuri
                                                     : Shb. Ali Ahmad
Penerangan / Humasy      : Shb. Abdul Hajji
                                                     : Shb. Cholilu Rohman
Dana dan Logistik           : Shb. Muzani Ilyas
                                                     : Shb. Mahmud Syarif
Pada mulanya LDP PMII ini dapat berkembang dengan baik terbukti dengan berhasilnya dilaksanakan beberapa kegiatan yakni:
-       Melengkapi alat-alat administrasi dan ketatarumah tanggaan organisasi
-       Mengadakan musyawarah da’wah Nasional
-       Pengiriman buku pedoman pelaksanaan da’wah PMII
-       Membentuk cabang-cabang lembaga da’wah
-       Mendirikan CV. Priangan sebagai badan usaha pimpinan LDP PMII
-       Mengadakan diskusi-diskusi da’wah secara periodik dan kegiatan-kegiatan yang lain yang bersifat incidental.[3]
Tetapi kejayaan dari lembaga da’wah pusat PMII ini tidak berlangsung lama, karena kekurangan dana dan kondisi cabang PMII Malang yang tidak menggembirakan akhirnya dalam kongres VII LDP ditarik kembali ke pusat (Jakarta)
1.3.    Lembaga Pres Pusat PMII (LPP PMII)
       Lembaga pers Pusat PMII juga merupakan salah satu dari lembaga non structural yang berhasil lahir dalam arena MUKERNAS II, LPP PMII berpusat di Bandung dan kepengurusannya diresmikan oleh PP PMII pada tanggal 28 Juli 1968, adapun personalia LPP PMII sbb:
Ketua umum                    : Shb. Hisyam Bisri
Ketua I                             : Shb. Syarif hidayat Al-Hubby
Ketua II                           : Shb. Itho Arfin
Ketua III                          : Shb. Deden Sederhana
Ketua IV                          : Shb. Agus S Mahmud
Sekretaris Umum             : Shb. Sueb Supeno
Sekretaris I                       : Shb. Zulajar Iskandar
Sekretaris II                     : Shb. Muhamad Said
Sekretaris III                    : Shb. Chaeri Hadi CD
Sekretaris IV                    : Shb. Neneng Hafsah Mutmainnah
Bendahara Umum            : Shb. A. Rukman
Bendahara I                     : Shb. Nina Herlina
Bendahara II                    : Shb. Nurmillah
Biro-biro                           :
Sekretaris                         : Hidmat CD
                                         : Shb. Jaja Zakaria
                                         : Shb. Junaeri
Penerbitan                        : Shb. Erlina Indra
                                         : Shb. Drs. Utui Turmudzi
                                         : Shb. Fahri Pasaribu
                                         : Shb. Musyafri
Brita                                 : Shb. Agus SM
                                         : Shb. Hidayat
                                         : Shi. Sauma Martini
                                         : Shi. Qomaria Maryati
                                         : Shb. Alimuddi
                                         : Shb. Sholihin MH
                                         : Sbi. Rita yuniar
Pendidikan / Riset            : Shb. Drs. Hafidz Ustman
                                         : Shb. Hilman Badruddin Syah
                                         : Shb. Muhamad Siddiq
                                         : Shb. Drs. A. Ruchayat Noor
Radio dan TV                  : Shb. Sambas
                                         : Shb. Fuad Wahab
                                         : Shb. EA. Choliq
                                         : Shb. Pari P. Puji
Sanggar Karya                 : Shb. Ajat Sudrajat
                                         : Shb. Tin S. Indik
                                         : Shb. Abror Dachwan
                                         : Sbi. Yeti hayati
Luar Negeri                      : Shb. Dida Hidayat BA
                                         : Shb. Dr. Bakir Abi Sujja
                                         : Shb. Chodori Fadhli SH
                                         : Shb. Firman Arifin (Jerman Barat)
                                         : Shi. Pipin Hanafiah (Tokyo)
                                         : Shb. Rusmanah (Rusia)
                                         : Shi. Yayuk Hidayat (Mesir)
                                         : Sbi. Endah Sugiyarti (Tokyo)
Adapun kegiatan-kegiatan yang berhasil dilaksanakan LPP PMII antara lain:
-       Menyelenggarakan MUNAS Lembaga Pers PMII
-       Mengirimkan pedoman pembntukan perwakilan-perwakilan LPP PMII untuk pengurus wilayah (sekarang istilahnya coordinator cabang-pen) dan pengurus cabang
-       Menerbitkan mingguan mahasiswa.[4]
Perjalanan LPP PMII juga pada mulanya dapat bekembang dengan baik, tapi karena satu lain hal terutama keterlibatan PMII dalam kegiatan Pemilu dan perkembangan pmii cabang Bandung yang juga tidak menggembirakan maka akhirnya melalui keputusan Kongres V pada tahun 1973 LPP PMII ini dipindahkan pusat kegiatannya ke Jogjakarta.

[1]  Surat PP. PMII tentang Registrasi Alumni PMII, Nomor Surat 070 / PP-IV/VII-67, tertanggal Jakarta 22 Agustus 1967.
[2]  Laporan Pucuk Pimpinan PMII periode 1967-1970 dalam Kongres III di Makasar pada tanggal 25-30 April 1970, hal 10.

[3]  Ibid, 7 dan 8.
[4]  Ibid, hal 8 dan 9
More about → Sejarah PMII Solo (15)