Geopolitik dan Ekonomi Dunia

Diposting oleh admin on Sabtu, 18 Oktober 2008

Setelah tahun l945 negeri Indonesia sudah bisa ditemukan di peta dunia. Masyarakat internasional perlahan-lahan menerima ‘Indonesia’ setelah ratusan tahun sebelumnya menyebut sabuk pulau yang membelah dua benua dan dua samudra ini dengan sebutan Hindia Belanda (Netherland Indies). Secara resmi Indonesia telah menjadi unit tersendiri dalam skala politik dan ekonomi, persis bersamaan berakhirnya Perang Dunia II. Sebagai sebuah negara, Indonesia terus masuk dalam hitungan dan keadaan konstelasi dunia. Pengaruhnya terus terasa begitu Indonesia mulai merintis formasi politik dan ekonomi negerinya – bersamaan dengan formasi kulturalnya sebagai sebuah bangsa yang baru dimulai. Indonesia dihimpit oleh dua kekuatan politik dan ekonomi raksasa dunia: blok kapitalis-liberal yang dikomando Amerika Serikat versus blok komunis-sosialis yang dipimpin Uni Sovyet. Di bawah kepemimpinan Soekarno waktu itu, Indonesia lebih memilih berdiri ‘di tengah’ dengan komitmen anti-kapitalisme. Tak ayal, Indonesia dicap lebih berbau komunis daripada betul-betul netral. Meski bersama negeri-negeri dunia ketiga seperti India dan Mesir Indonesia menginisiasi persekutuan negara-negara Non-Blok melalui Konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun l955 yang melahirkan Gerakan Non-Blok (GNB). Nuansa konfrontasi politik dan ekonomi internasional begitu terasa ketika itu. Medan perang baru terbuka di Asia tempat ajang perseteruan AS dan Uni Sovyet. Indonesia dipetakan sebagai negara strategis yang membahayakan kepentingan kapitalis-liberal. Kekuatan kapitalisme-liberal AS yang tengah berekspansi tidak hanya membawa kepentingan politik, melainkan juga ekonomi. Dengan berbagai lembaga donor yang disponsorinya, AS menawarkan bantuan modal bagi negeri-negeri korban PD II di Eropa (Marshal Plan) dan bagi negara-negara Dunia Ketiga. Bahkan lebih jauh, mereka tidak segan-segan untuk melibatkan diri dalam gerakan sparatis di Indonesia seperti dalam peristiwa PRRI-Permesta tahun l957 yang melibatkan PSI dan Masyumi. Pada era tersebut mainstream ekonomi global dipengaruhi oleh Keynisianisme yang memberikan tempat bagi keterlibatan negara dalam sirkulasi modal. Di Indonesia, ketika orde lama digusur kekuatan militer Angkatan Darat dengan back-up penuh AS mainstream tersebut langsung dipraktikkan dengan ‘gaya Indonesia’; keluarga dan kroni presiden yang mewakili Negara. Hingga hampir tiga puluh tahun kemudian, sepanjang Perang Dingin, di bawah payung Ekonomi Liberal, Indonesia menjadi negeri penting di Asia sebagai buffer dari pengaruh Sovyet. Keruntuhan Komunis (Uni Sovyet) ikut berpengaruh terhadap perubahan ekonomi dunia. Model neoliberalisme yang dimotori Ronald Reagen dan Tatcher mendapat keleluasaan gerak. Kekuatan AS tidak lagi memiliki saingan. Selama beberapa waktu pada tahun-tahun l990-an, AS menjadi kekuatan dominan baik dalam kekutan militer, politik dan modal. Sementara pada situasi itu, Indonesia telah kehilangan fungsi strategisnya sebagai buffer politik; komunis bukan lagi ancaman. Arena dunia murni telah menjadi arena perang ekonomi dengan issu sosial dan politik-militer sebagai ujung tombaknya. Namun AS tidak terus-terusan berdiri sendiri. Selain Uni Eropa (UE) muncul rival baru di Asia, yakni Cina yang menjadi aktor besar dalam konstelasi ekonomi dan politik dunia. Selain itu muncul organisasi kawasan yang berkomitmen melakukan kerja sama ekonomi di Asia dan Amerika Latin. Saat ini, bagaimana posisi Indonesia dalam Geopolitik dunia sehingga kita bisa tegak dan berdaulat sebagai bangsa dalam pergaulan bangsa-bansga di dunia, padahal di sisi lain daya tawar Indonesia semakin habis, Indonesia belum pula menemukan dirinya. Diskusi dengan topik Indonesia dalam Geopolitik Dunia ini akan mendiskusikan situasi Geopolitik mutakhir dan implikasi ekonominya bagi Indonesia. Dengan harapan bahwa peserta dapat mencandra posisi Indonesia dalam arena dunia, khususnya secara ekonomi dan politik. Juga mengenai konsep negera-bangsa serta bangsa itu sendiri dalam situasi geopolitik mutakhir.

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar

Bagaimana merekrut dan mengembangkan organisasi ekternal kampus di masa kini?