Halalbihalal PMII dan Foksika Dari Soal Calon Gubernur sampai Dukun Bayi

Diposting oleh admin on Sabtu, 14 November 2009

Suara Merdeka, Kamis, 23 Nopember 2006
HALALBIHALAL Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jateng kemarin gayeng. Pasalnya, acara yang digelar di Rumah Makan Sate House, Jalan Imam Bonjol Semarang itu tidak hanya dimanfaatkan untuk "curhat" para peserta tentang "Kiat Jadi Orang Kaya", tetapi juga untuk guyonan para pembicara menyerempet soal-soal politik berkaitan dengan pilihan Gubernur Jateng.
Tidak ada tausiyah atau mauizah hasanah dari kiai atau ustad. Acara tausiyah diganti obrolan tentang ekonomi menampilkan Managing Director Suara Merdeka, Kukrit SW, Ketua Kadin Jateng, Ir Solichedi, Ketua Ketua Forum Komunikasi Silaturahmi Keluarga Alumni (Foksika) PMII Jateng, Abdullah Sjatori, dan Ketua Korcab PMII, Muhammad Mahbub Zaki.
Acara tersebut dipandu oleh mantan Ketua Korcab, M Asrofi. Ketika MC meminta Kukrit tampil di panggung, Ketua PWNU Jateng, Drs H Moh Adnan MA mempersilakan dia sambil menyebut ''Gus Kukrit''. Para peserta yang datang dari seluruh cabang pun serentak menyebut Gus Kukrit.
Ketika sampai di panggung, ganti Kukrit "menggarap'' Adnan yang kebetulan duduk bersebelahan dengan H Soewanto, Dirut CV Aneka Ilmu.
''Idealnya Jawa Tengah ke depan memang dipimpin oleh kiai dan pengusaha. Setuju tidak,'' kata Kukrit yang langsung disambut koor ''setuju''. 
Tetapi anggota DPRD Jateng yang juga alumnus PMII, Ali Mansyur HD langsung menyahut, ''Setuju yang pegang mic.'' Yang dimaksud adalah Kukrit sendiri, yang saat itu memang memegang mic.
Ketua Hipmi Jateng itu mengingatkan masa depan Jawa Tengah milik pemuda. Potensi kader-kader PMII diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja, bukan pemuda yang mencari kerja. ''Globalisasi tidak akan mampu kita bendung. Jangan heran, kalau ada sopir taksi dari Vietnam, pelayan toko dari China, dan akhirnya kita sendiri cuma jadi penonton,'' katanya.
Karena itu, melalui ormas pemuda dan LSM pihaknya menyebarkan virus dan wabah entrepreneurship.
''Targetnya satu, menciptakan generasi muda yang mampu menciptakan lapangan kerja,'' katanya.
Curhat
Ia merasa heran, sebab ketika Jawa Tengah mau membangun bandara internasional, dermaga internasional, selalu "gegeran". Padahal, di provinsi lain tidak terjadi gegeran seperti di Jateng.
Pada sesi berikutnya, Ketua Kadin, Solichedi menyambut baik upaya PMII yang akan mengembangkan kehidupan ekonomi anggotanya. ''PMII hebat, walau manuver gerakannya tidak ingar-bingar seperti gerakan mahasiswa lain, tapi punya integritas yang kuat dan platform yang jelas yaitu moril dan takwa,'' tegasnya.
Ia memberi resep sukses sebagai seorang pengusaha, yaitu networking atau jejaring yang luas dengan semua orang tanpa memandang golongan, kelompok, dan jabatan.
Ketua Foksika, Abdullah Sjatori mengajak kader-kader nahdliyyin untuk terus mengembangkan jaringan.
''Tidak usah bercita-cita jadi PNS. Meskipun gajinya terus dinaikkan, jumlahnya akan terus dibatasi,'' katanya.
Pada acara itu, forum tanya jawab berubah menjadi ajang "curhat". Kebanyakan menanyakan kiat menjadi orang kaya.
''Kalau mau sukses, ya lakukan apa saja, yang penting halal. Saya contohnya, tidak jadi PNS, tapi jualan, artinya jadi pengusaha,'' tutur Solichedi. Sjatori bahkan menyarankan kader PMII siap menjadi dukun bayi.
''Dukun bayi yang profesional banyak dibutuhkan orang lho. Logikanya, sampai kapan pun masih banyak orang yang beranak,'' katanya disambut tawa hadirin.
Pada kesempatan itu seorang alumnus bernama Siti Choiriyah dari Mrebet, Purbalingga, mengeluhkan sulitnya mendapat modal usaha. Ia tengah mengembangkan bisnis makanan ringan, yaitu torakor (tomat rasa korma).
"Makanan itu bisa menambah vitalitas lho,'' katanya berpromosi.
Para peserta sekaligus mencicipi produk asli dari Purbalingga itu. Solichedi berjanji akan membantu mencarikan pihak yang bersedia membantu permodalan.(Agus Fathuddin Yusuf-64a)

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar

Bagaimana merekrut dan mengembangkan organisasi ekternal kampus di masa kini?